Majas Personifikasi: Fungsi, Nilai Estetika, dan Perannya dalam Pembelajaran Bahasa

Blog tentang Pendidikan - Majas personifikasi adalah salah satu elemen gaya bahasa yang paling sering muncul dalam karya sastra dan pembelajaran Bahasa Indonesia. 

Ketika sebuah benda digambarkan “tersenyum” atau “berbisik”, itulah saat personifikasi bekerja menghadirkan pengalaman bahasa yang lebih hidup.

Sebagai bagian dari kurikulum literasi, pemahaman tentang majas personifikasi membantu peserta didik mengasah kepekaan bahasa, kreativitas visual dalam membaca, dan kemampuan menafsirkan teks secara lebih kritis.

Apa Itu Majas Personifikasi?

Secara konseptual, majas personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberikan sifat, perilaku, atau karakter manusia kepada benda mati, makhluk non-manusia, atau konsep abstrak. 

Dalam kajian stilistika, personifikasi termasuk dalam kelompok majas perbandingan (tropes) karena meminjamkan atribut manusia untuk memperkaya ekspresi bahasa.

Para ahli linguistik seperti Keraf dan Luxemburg menyebut personifikasi sebagai imajinasi antropomorfik, yaitu gambaran yang membuat sesuatu tampak hidup agar makna yang ditangkap pembaca menjadi lebih emosional dan mudah divisualisasikan. 

Konsep ini sering digunakan penulis untuk “menghidupkan” suasana, menciptakan tone tertentu, atau memberikan penekanan emosional tanpa harus menjelaskan panjang lebar.

Di dunia pendidikan, pemahaman majas personifikasi juga menjadi bagian penting dari pembelajaran apresiasi sastra. 

Melalui analisis gaya bahasa ini, siswa belajar membedakan bahasa literal dan bahasa kias, memahami unsur estetika dalam teks, serta mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

Ciri-ciri Majas Personifikasi

Agar pendidik dan peserta didik dapat mengenali personifikasi secara akurat, ada beberapa ciri utama yang biasanya muncul, di antaranya:

1. Benda mati digambarkan memiliki sifat manusia

Contohnya:

  • Matahari tersenyum hangat di ufuk timur.
  • Awan berlari mengejar angin.

Sifat “tersenyum” atau “berlari” adalah perilaku manusia yang tidak mungkin dilakukan oleh matahari atau awan secara harfiah.

2. Mengandung makna kias, bukan literal

Personifikasi tidak boleh ditafsirkan sebagai kenyataan. Ia hanya membentuk kesan artistik atau emosional.

3. Menghadirkan efek suasana atau imajinasi visual

Tujuan utamanya adalah menciptakan life-like imagery. Kalimat yang diberi sentuhan personifikasi akan lebih hidup, dinamis, dan menggugah pembaca.

4. Menggunakan kata kerja aktif khas manusia

Misalnya: menangis, menari, menatap, berjalan, menjerit, membelai, memeluk, dan lainnya.

Ciri-ciri ini penting dalam pembelajaran analisis teks karena memungkinkan siswa mengidentifikasi struktur estetik dan memahami konteks penggunaan bahasa figuratif.

Baca Juga:
Inilah Perbedaan Majas Metafora, Simile dan Personifikasi

Mengapa Majas Personifikasi Penting dalam Pendidikan Bahasa?

Dalam ekosistem pembelajaran Bahasa Indonesia, personifikasi bukan hanya sekadar materi tentang “macam-macam majas”. Ia memiliki fungsi strategis dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan literasi peserta didik.

Berikut beberapa alasan mengapa pendidik perlu menekankan pemahaman majas personifikasi:

1. Meningkatkan Sensitivitas Bahasa

Personifikasi melatih siswa untuk lebih peka terhadap nuansa, makna kias, dan simbol dalam teks. Ini sangat penting untuk membangun kecerdasan linguistik.

2. Mengembangkan Imajinasi dan Visualisasi

Ketika siswa membaca kalimat seperti *“malam memeluk kota dalam keheningan”*, mereka belajar memvisualisasikan suasana melalui bahasa. Ini penting untuk meningkatkan keterampilan menulis kreatif.

3. Memperkaya Kosa Kata dan Struktur Kalimat

Guru dapat memanfaatkan majas personifikasi sebagai media memperkenalkan struktur kalimat naratif yang lebih variatif dan estetis.

4. Menguatkan Kemampuan Interpretasi Teks

Dalam pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka, interpretasi dan analisis makna menjadi kompetensi inti. Personifikasi membantu siswa menelaah makna implisit dalam karya sastra.

5. Membangun Apresiasi Sastra sejak Dini

Mengajarkan gaya bahasa seperti personifikasi dapat menumbuhkan kecintaan terhadap puisi, fabel, cerpen, dan novel, yang semuanya sangat dipengaruhi oleh unsur estetika.

Baca Juga:
Apa itu Majas Metafora? Begini Penjelasannya.

Fungsi Majas Personifikasi

Personifikasi memiliki tiga fungsi utama:

1. Fungsi Estetika

Memberi keindahan pada teks sehingga pembaca merasakan emosi yang lebih kuat.

2. Fungsi Dramatis

Menghidupkan suasana sehingga cerita terasa lebih nyata.

3. Fungsi Komunikatif

Mempermudah penulis menyampaikan pesan secara simbolis.

### Contoh Analisis:

Pada kalimat “Hujan menari di atas atap rumah”, kata “menari” menunjukkan ritme dan ketukan hujan, bukan benar-benar mengandung makna literal. Personifikasi di sini membantu pembaca merasakan suasana hangat, intim, dan berirama.

Majas Personifikasi dalam Konteks Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka menekankan pada literasi, apresiasi sastra, dan kompetensi interpretatif. Personifikasi dapat menjadi bahan pembelajaran yang fleksibel dan kaya untuk berbagai jenjang pendidikan.

1. Pembelajaran Berbasis Teks

Guru dapat memasukkan contoh personifikasi dalam:

  • Teks deskriptif
  • Teks naratif
  • Puisi
  • Cerpen
  • Esai reflektif

2. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

Personifikasi bisa dipakai sebagai media:

  • Membuat puisi alam
  • Membuat poster literasi
  • Menulis cerpen bertema lingkungan
  • Membuat animasi sederhana

3. Digital Literacy

Siswa dapat dilatih mengidentifikasi majas personifikasi dalam:

  • Video edukasi
  • Iklan layanan masyarakat
  • Konten multimedia

Ini membantu mereka memahami bahwa gaya bahasa tidak hanya muncul dalam buku, tapi juga dalam dunia digital.

Contoh-contoh Kalimat Personifikasi

Agar guru dan siswa mudah memahami, berikut 20 contoh terstruktur:

  1. Buku-buku di perpustakaan memandangku seolah meminta untuk dibaca.
  2. Papan tulis menunggu coretan baru di pagi hari.
  3. Bel sekolah berteriak menandai dimulainya pelajaran.
  4. Jam dinding berlari mengejar waktu ujian.
  5. Laptop itu merintih saat baterainya melemah.
  6. Kertas ulangan menatapku penuh harap.
  7. Pena menari mengikuti alur pikiranku.
  8. Lampu kelas tersenyum ketika ruangan kembali hidup.
  9. Gedung sekolah menyambut para siswa setiap pagi.
  10. Halaman sekolah berbisik saat angin lewat membawa dedaunan.
  11. Meja belajar setia mendengarkan keluh kesah malamku.
  12. Ruang kelas menguap kelelahan setelah dipakai seharian.

Contoh-contoh ini bisa digunakan guru sebagai materi analisis.

Cara Mengajarkan Majas Personifikasi secara Efektif di Kelas

Berikut strategi pembelajaran berbasis praktik:

1. Pembelajaran Kontekstual

Guru memberi teks pendek, meminta siswa menandai kata personifikasi, lalu mendiskusikan efeknya.

2. Ice Breaking “Si Benda Hidup”

Guru memberikan benda seperti penghapus atau penggaris, lalu meminta siswa membuat kalimat personifikasi spontan.

3. Membuat Puisi Mini

Siswa diminta membuat tiga baris puisi tentang alam menggunakan dua personifikasi.

4. Analisis Visual

Guru menunjukkan gambar awan, hujan, atau matahari, lalu siswa membuat narasi berupa personifikasi berdasarkan gambar.

5. Peer Review

Siswa saling mengoreksi penggunaan majas dalam tulisan teman. Strategi ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran aktif dan literasi kritis.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari Saat Menggunakan Personifikasi

1. Terlalu memaksa sifat manusia pada objek yang tidak relevan

Misalnya: Mesin fotokopi itu sedang patah hati. Ini terdengar janggal.

2. Menggunakan tindakan manusia yang tidak sesuai konteks

Personifikasi tetap harus logis.

3. Mengulang jenis personifikasi yang sama berulang kali

Akibatnya tulisan terasa monoton.

4. Menggunakan personifikasi tanpa tujuan artistik atau emosional

Personifikasi harus memperkuat makna, bukan sekadar “hiasan”.

Pentingnya Memahami Personifikasi dalam Literasi Modern

Di era digital, kemampuan memahami gaya bahasa sangat relevan karena:

  1. Banyak iklan menggunakan personifikasi visual.
  2. Narasi media sosial juga sering memakai gaya bahasa figuratif.
  3. Konten edukasi digital menggunakan metafora visual dan verbal.

Artinya, pembelajaran majas personifikasi tidak lagi terbatas pada buku pelajaran, tetapi bagian dari literasi multimodal abad 21.

Kesimpulan

Majas personifikasi bukan sekadar gaya bahasa, tetapi alat literasi yang mampu memperkaya pengalaman membaca, mengembangkan imajinasi, dan menguatkan interpretasi teks. 

Dalam pendidikan Bahasa Indonesia, personifikasi membantu siswa memahami makna kiasan, membangun sensitivitas bahasa, serta menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra.

Dengan menguasai personifikasi, peserta didik dapat menulis dengan lebih hidup, membaca dengan lebih kritis, dan menafsirkan bahasa dengan lebih kreatif.

Pertanyaan Umum (FAQ)

1. Apa perbedaan majas personifikasi dengan metafora?

Metafora membandingkan dua hal langsung, sedangkan personifikasi memberikan sifat manusia pada benda mati.

2. Apakah personifikasi hanya ada di puisi?

Tidak. Personifikasi muncul dalam cerpen, novel, fabel, iklan, bahkan konten digital.

3. Mengapa personifikasi penting dipelajari siswa?

Karena membantu meningkatkan interpretasi, kreativitas, literasi bahasa, dan daya imajinasi.

4. Adakah batasan penggunaan personifikasi?

Ya. Personifikasi harus logis, tidak berlebihan, dan relevan dengan konteks.

5. Bagaimana cara cepat mengenali personifikasi?

Cari kata kerja khas manusia yang diberikan pada benda mati atau konsep abstrak.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url