Majas Pleonasme dan Tautologi: Penegasan Makna atau Redundansi Bahasa?
Blog tentang Pendidikan - Majas pleonasme dan tautologi merupakan dua konsep penting dalam kajian gaya bahasa Bahasa Indonesia yang kerap menimbulkan kebingungan.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan pengulangan atau pemborosan unsur bahasa, namun memiliki fungsi dan karakteristik yang tidak sepenuhnya identik.
Dalam dunia pendidikan, pemahaman yang tepat tentang pleonasme dan tautologi menjadi sangat penting karena membantu peserta didik membedakan antara penggunaan bahasa yang efektif dan penggunaan bahasa yang bersifat ekspresif.
Artikel ini mengulas kedua majas tersebut secara mendalam, faktual, dan terfokus, dengan sudut pandang edukatif dan netral.
Memahami Konsep Pleonasme Secara Akademik
Pleonasme adalah majas yang termasuk kedalam kategori Majas Penegasan, gaya bahasa majas ini menggunakan kata atau frasa tambahan yang secara makna sebenarnya sudah terkandung dalam unsur bahasa sebelumnya.
Dalam kajian semantik, pleonasme sering dipahami sebagai bentuk redundansi, yakni kelebihan informasi yang tidak mengubah makna dasar suatu pernyataan.
Sebagai contoh, ungkapan "melihat dengan mata kepala sendiri" secara logika tidak memerlukan tambahan kata "mata" karena aktivitas melihat sudah mengimplikasikan penggunaan mata.
Namun, dalam praktik berbahasa, tambahan tersebut digunakan secara sadar untuk memperkuat kesan kehadiran langsung atau pengalaman personal.
Dalam konteks pendidikan bahasa, pleonasme tidak selalu dipandang sebagai kesalahan mutlak. Ia menjadi objek kajian untuk memahami bagaimana bahasa bekerja tidak hanya sebagai alat penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana penegasan makna.
Ciri-ciri Majas Pleonasme
Agar tidak tercampur dengan bentuk pengulangan lain, pleonasme memiliki sejumlah karakteristik yang dapat dikenali dengan jelas.
- Pertama, terdapat unsur bahasa yang maknanya sudah tercakup dalam kata utama.
- Kedua, jika unsur tambahan tersebut dihilangkan, makna kalimat tetap dapat dipahami secara utuh.
- Ketiga, penggunaan kata berlebih ini dilakukan secara sadar dan memiliki tujuan retoris tertentu.
Dalam penulisan ilmiah dan akademik, pleonasme umumnya dihindari karena dianggap tidak efisien. Namun dalam sastra, pidato, dan komunikasi lisan, pleonasme sering digunakan untuk menambah kekuatan ekspresif.
Fungsi Pleonasme dalam Komunikasi
Pleonasme memiliki beberapa fungsi penting dalam praktik berbahasa. Salah satunya adalah mempertegas maksud penutur. Penambahan kata yang tampak berlebihan justru membuat pesan terasa lebih kuat dan tidak ambigu.
Selain itu, pleonasme juga berfungsi menciptakan nuansa dramatik. Dalam karya sastra atau pidato persuasif, gaya bahasa ini membantu membangun emosi dan menarik perhatian audiens.
Dalam pembelajaran, guru dapat menggunakan contoh pleonasme untuk menunjukkan perbedaan antara bahasa efektif dan bahasa ekspresif.
Mengenal Tautologi dalam Kajian Bahasa
Berbeda dengan pleonasme, tautologi adalah gaya bahasa yang mengulang gagasan yang sama menggunakan kata atau frasa yang memiliki makna serupa atau bersinonim.
Pengulangan ini tidak selalu menggunakan kata yang sama, tetapi menyampaikan ide yang sama melalui variasi kosakata.
Sebagai contoh, ungkapan "hidup rukun, damai, dan harmonis" mengandung tautologi karena ketiga kata tersebut memiliki makna yang saling berdekatan. Secara semantik, pesan utamanya tetap satu, yakni keadaan hidup yang tenteram.
Dalam kajian retorika, tautologi sering dipakai untuk menegaskan ide melalui variasi bahasa. Pengulangan makna dengan sinonim ini membuat pesan terasa lebih kuat dan meyakinkan.
Karakteristik Majas Tautologi
Tautologi memiliki ciri utama berupa pengulangan makna, bukan sekadar pengulangan kata. Kata-kata yang digunakan bisa berbeda, tetapi gagasan yang disampaikan tetap sama.
Ciri lainnya adalah keberadaan sinonim atau frasa sepadan dalam satu kalimat atau wacana. Jika salah satu unsur dihilangkan, inti makna pernyataan tidak berubah secara signifikan.
Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, tautologi menjadi contoh nyata bagaimana pilihan kata dapat memengaruhi efektivitas kalimat.
Fungsi Tautologi dalam Bahasa
Tautologi berfungsi memperjelas dan memperkuat pesan. Dengan mengulang gagasan yang sama melalui variasi kosakata, penulis atau penutur memastikan bahwa maksudnya benar-benar dipahami oleh audiens.
Dalam pidato dan teks persuasif, tautologi sering digunakan untuk menanamkan ide tertentu secara kuat. Namun, dalam penulisan akademik, penggunaan tautologi perlu dibatasi agar tidak menimbulkan kesan bertele-tele.
Perbedaan Mendasar Pleonasme dan Tautologi
Meskipun sama-sama melibatkan unsur pengulangan, pleonasme dan tautologi memiliki perbedaan mendasar. Pleonasme menambahkan kata yang maknanya sudah tersirat, sedangkan tautologi mengulang gagasan yang sama melalui kata atau frasa yang bersinonim.
Pleonasme sering kali terlihat sebagai kelebihan kata, sementara tautologi lebih menonjolkan pengulangan ide. Dalam praktiknya, tautologi dapat dianggap sebagai salah satu bentuk pleonasme, tetapi tidak semua pleonasme adalah tautologi.
Pemahaman perbedaan ini penting agar peserta didik tidak keliru dalam mengidentifikasi gaya bahasa dalam teks.
Pleonasme dan Tautologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam kurikulum pendidikan nasional, pembahasan majas pleonasme dan tautologi biasanya muncul dalam materi gaya bahasa atau stilistika. Tujuannya adalah melatih kepekaan berbahasa siswa.
Melalui analisis contoh-contoh konkret, siswa belajar menilai apakah suatu kalimat efektif atau justru berlebihan. Pembelajaran ini membantu siswa mengembangkan kemampuan menulis yang lebih tepat dan komunikatif.
Guru juga dapat memanfaatkan kedua majas ini untuk mengajarkan keterampilan menyunting teks, terutama dalam membedakan bahasa sastra dan bahasa ilmiah.
Relevansi Pleonasme dan Tautologi di Era Modern
Di era digital, pleonasme dan tautologi masih sering ditemukan, baik dalam media massa, iklan, maupun konten digital. Banyak judul berita dan slogan menggunakan gaya bahasa ini untuk menarik perhatian pembaca.
Pemahaman kritis terhadap pleonasme dan tautologi membuat pembaca lebih sadar akan strategi bahasa yang digunakan dalam berbagai teks. Hal ini penting untuk meningkatkan literasi dan kemampuan berpikir kritis.
Contoh Majas Pleonasme dan Tautologi
Untuk memperjelas pemahaman, berikut disajikan contoh-contoh konkret penggunaan majas pleonasme dan majas tautologi dalam kalimat. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana pengulangan atau kelebihan unsur bahasa digunakan secara sadar untuk penegasan makna.
Contoh Majas Pleonasme
- Ia melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
- Para siswa diminta untuk maju ke depan kelas.
- Ayah turun ke bawah untuk memeriksa mesin.
- Ibu kembali pulang ke rumah saat hujan turun.
- Mereka berkumpul bersama-sama di aula sekolah.
- Dia naik ke atas panggung dengan percaya diri.
- Anak itu menangis sambil meneteskan air mata.
- Guru menjelaskan kembali lagi materi pelajaran.
- Kami mendengar langsung dengan telinga sendiri.
- Ia mundur ke belakang beberapa langkah.
- Para tamu masuk ke dalam ruangan utama.
- Siswa diminta duduk bersama-sama secara berkelompok.
- Dia menulis catatan kecil dengan tangannya sendiri.
- Pesawat terbang melayang di udara tinggi.
- Matahari terbit naik di pagi hari.
- Ia berteriak keras dengan suara lantang.
- Anak itu tersenyum manis dengan bibirnya.
- Guru wali kelas memanggil siswa satu per satu secara bergiliran.
- Mereka berkumpul bersama di satu tempat.
- Ia jatuh terperosok ke bawah tanah.
- Polisi menangkap pelaku ke dalam sel tahanan.
- Para penonton menyaksikan langsung secara live.
- Ia berjalan kaki menggunakan kakinya sendiri.
- Anak itu duduk diam tanpa bergerak sama sekali.
- Kami semua hadir bersama-sama dalam rapat tersebut.
- Dia keluar ke luar ruangan tanpa izin.
- Ayah memasukkan barang ke dalam tas.
- Mereka kembali pulang ke kampung halaman.
- Siswa menyalin ulang kembali jawaban di papan tulis.
- Ibu turun ke bawah lantai dasar.
- Anak-anak berkumpul ramai-ramai bersama.
- Ia mengangkat tangan ke atas tinggi-tinggi.
- Guru masuk ke dalam kelas tepat waktu.
- Mereka semua hadir lengkap secara keseluruhan.
- Dia tersenyum sambil memperlihatkan giginya.
Contoh Majas Tautologi
- Mereka hidup rukun, damai, dan harmonis.
- Ia merasa sedih, pilu, dan duka.
- Anak itu rajin, tekun, dan giat belajar.
- Suasana kelas terasa sunyi, sepi, dan lengang.
- Dia berlari cepat, kencang, dan laju.
- Guru memberikan nasihat, petuah, dan wejangan.
- Mereka bekerja sama, bahu-membahu, dan saling membantu.
- Wajahnya tampak cerah, bersinar, dan bercahaya.
- Ia berbicara jujur, apa adanya, dan terus terang.
- Anak itu dikenal baik, ramah, dan bersahabat.
- Suasana rapat berlangsung aman, tertib, dan terkendali.
- Ia merasa takut, gentar, dan ngeri.
- Jalan itu licin, basah, dan lembap.
- Mereka berpisah dengan hati sedih, muram, dan nestapa.
- Guru menjelaskan materi secara jelas, terang, dan gamblang.
- Anak itu pandai, pintar, dan cerdas.
- Keadaan ekonomi keluarga itu sulit, susah, dan berat.
- Ia berbicara lantang, keras, dan nyaring.
- Mereka hidup sederhana, bersahaja, dan apa adanya.
- Suasana pagi terasa tenang, tenteram, dan damai.
- Anak itu tampak lelah, letih, dan lesu.
- Guru menegaskan aturan secara tegas, keras, dan ketat.
- Ia merasa marah, kesal, dan jengkel.
- Jalan desa itu sempit, kecil, dan terbatas.
- Mereka berjuang dengan gigih, ulet, dan pantang menyerah.
- Wajahnya pucat, pudar, dan memucat.
- Ia berbicara pelan, lirih, dan perlahan.
- Anak itu tumbuh sehat, bugar, dan kuat.
- Keputusan itu bersifat mutlak, pasti, dan tidak berubah.
- Mereka hidup bahagia, senang, dan gembira.
- Suasana kelas menjadi riuh, ramai, dan gaduh.
- Ia dikenal jujur, lurus, dan bersih.
- Anak itu menangis sedih, pilu, dan terharu.
- Guru memberi arahan jelas, terarah, dan terstruktur.
- Mereka bekerja keras, sungguh-sungguh, dan total.
Kesimpulan
Majas pleonasme dan tautologi merupakan bagian penting dari kajian gaya bahasa Bahasa Indonesia. Keduanya menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu bekerja secara ekonomis, tetapi juga secara ekspresif dan persuasif.
Dengan memahami perbedaan dan fungsi kedua majas ini, pembelajar bahasa dapat menggunakan bahasa secara lebih sadar dan efektif. Mari jadikan pemahaman ini sebagai bekal untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan literasi.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa kriteria utama agar suatu kalimat dapat disebut pleonasme?
Suatu kalimat disebut pleonasme apabila mengandung kata atau frasa tambahan yang secara makna sudah tercakup dalam unsur bahasa sebelumnya, sehingga jika unsur tambahan tersebut dihilangkan, makna kalimat tidak berubah secara signifikan.
Bagaimana cara paling mudah membedakan pleonasme dengan tautologi?
Pleonasme menekankan kelebihan unsur kata yang maknanya sudah tersirat, sedangkan tautologi menekankan pengulangan gagasan yang sama melalui kata atau frasa yang bersinonim. Perbedaannya terletak pada bentuk pengulangan: implisit pada pleonasme dan sinonimik pada tautologi.
Apakah pleonasme dan tautologi boleh digunakan dalam tulisan akademik?
Dalam penulisan akademik, kedua majas ini umumnya dihindari karena dapat mengurangi keefektifan bahasa. Namun, pemahamannya tetap penting sebagai bagian dari kajian stilistika dan analisis teks.
Mengapa pleonasme dan tautologi sering muncul dalam bahasa lisan sehari-hari?
Karena dalam komunikasi lisan, penutur cenderung menekankan pesan agar lebih mudah dipahami lawan bicara. Pengulangan atau kelebihan kata digunakan sebagai strategi spontan untuk memperjelas maksud.
Apa manfaat mempelajari pleonasme dan tautologi bagi peserta didik?
Pemahaman kedua majas ini membantu peserta didik mengembangkan kepekaan berbahasa, meningkatkan kemampuan menyunting kalimat, serta membedakan penggunaan bahasa yang efektif dengan bahasa yang bersifat ekspresif.
