Mengapa Diksi Menjadi Unsur Penting dalam Bahasa Indonesia?
Mengapa Diksi Menjadi Unsur Penting dalam Bahasa Indonesia? - Hai, kalian pernah nggak sih, ngobrol sama seseorang tapi kok rasanya ngeblank? Bukan karena bahasanya sulit, tapi karena pilihan katanya yang nggak pas.
Atau, baca sebuah peraturan di sekolah yang bikin geleng-geleng kepala sambil bertanya dalam hati, “Lah.... Ini maksudnya apa, ya?”
Nah, dari sinilah kita nyemplung ke dunia diksi. Sebagai orang yang bergulat lama di dunia pendidikan, saya bilang bahwa diksi itu ibarat sebuah kunci.
Bisa jadi kunci yang buka pintu pemahaman, atau justru kunci yang mengunci percakapan. Ia bukan urusan penyair atau politisi doang, tapi urusan kita sehari-hari.
Diksi dalam Praktek Sehari-hari
Jadi, apa sih diksi itu? Banyak yang mikirnya sekadar “pilihan kata”. Iya, tapi nggak cuma itu. Ini adalah seni memilih kata yang paling pas dari sekian banyak kata yang “benar” secara tata bahasa.
Bayangin kamu di warung kopi. Mau bilang “minum” kopi? Atau “menyeruput”, “meneguk”, “menghabiskan”? Masing-masing bawa suasana beda, kan? “Menyeruput” itu ada unsur nikmat dan pelan, sementara “menghabiskan” lebih ke target. Itulah kekuatan diksi.
Dalam konteks pendidikan, masalah klasiknya begini. Seorang guru menerangkan konsep “fotosintesis” dengan diksi yang terlalu teknis dan kaku ke siswa SD.
Kata-katanya baku semua, tapi nggak nyambung. Hasilnya? Siswa hapal definisi, tapi nggak paham esensinya. Di sini, diksi yang gagal menjadi penghalang belajar.
Sebaliknya, guru yang pakai diksi “pas”, bisa mengantarkan konsep sulit jadi mudah dicerna. Misal, bilang “pabrik makanan” alih-alih “organel kloroplas” untuk awal pembelajaran. Bukan berarti salah, tapi strategis.
Diksi Itu Ibarat Pakaian – Ia Tentukan “Kesan Pertama” dalam Komunikasi
Coba kita ambil contoh nyata di sekitar. Ada dua pengumuman di mading kampus:
- “Mahasiswa dilarang melakukan aktivitas mencontek saat ujian.”
- “Integritas akademik adalah harga diri. Mari jaga kualitas ujian dengan kerja mandiri dan jujur.”
Kedua pesan intinya sama: larangan mencontek. Tapi, diksi di pengumuman kedua membangun nuansa yang berbeda.
Kata “integritas”, “harga diri”, “kerja mandiri”, “jujur” punya konotasi positif dan membangkitkan kesadaran. Sementara “dilarang” dan “mencontek” langsung terkesan negatif dan otoriter.
Nah, di sinilah diksi berperan sebagai pakaian pesan. Pakaian yang pas dan bagus bikin pesan diterima dengan lebih baik, bahkan bisa menginspirasi.
Dalam konteks nasional, coba lihat bagaimana istilah “pembatasan sosial” di masa pandemi punya dampak psikologis yang berbeda dengan “lockdown”.
Atau, “pelaku usaha mikro” terdengar lebih memberdayakan daripada “pedagang kecil”. Pemerintah, melalui Kemendikbudristek dan Badan Bahasa, sebenarnya aktif mengelola ini lewat pengembangan kosakata baru dan penyusunan pedoman.
Namun, tantangannya adalah bagaimana kata-kata yang “pas” itu turun sampai ke level komunikasi sehari-hari di sekolah dan kampus.
Baca Juga:
Ketepatan Makna Melalui Pemilihan Diksi
Diksi itu Fleksibel, Bukannya Kaku
Nah, ini yang sering salah kaprah. Banyak yang mikir ahli diksi berarti harus selalu pakai bahasa yang berat dan sastrawi. Salah besar! Diksi yang baik justru dinamis. Ia menyesuaikan medan.
1. Di Media Sosial (Instagram/TikTok):
Diksi cenderung santai, penuh slang, singkatan, dan serapan asing yang trendi. Kata-kata seperti “gereget”, “mantul”, “gaskeun” adalah diksi yang efektif di ruang ini karena cepat dipahami komunitasnya.
2. Di Dunia Akademik (Skripsi, Jurnal):
Diksi harus baku, teknis, objektif, dan bebas dari ambiguitas. Penggunaan kata “dengan demikian”, “berdasarkan hasil analisis”, “variabel terikat” adalah keniscayaan.
3. Di Dunia Kerja (Email, Presentasi):
Diksi harus profesional, jelas, dan efektif. Menggunakan “tolong” dan “terima kasih”, serta memilih “kami mengusulkan” daripada “kami pengen…” menunjukkan tingkat profesionalisme.
Jadi, seorang yang cakap berbahasa adalah mereka yang bisa code-switching atau berganti-ganti kode diksi sesuai platform dan audiensnya.
Ini skill yang sangat berharga dan seringkali nggak diajarkan secara formal di bangku sekolah. Kita baru belajar dari pengalaman, atau malah dari kesalahan.
Kesan Pertama yang Nggak Bisa Diulang
Barangkali kalian nggak sadar, tapi diksi adalah bagian besar dari personal branding. Saat wawancara kerja, saat rapat dengan klien, saat presentasi proposal, pilihan kata-katamu adalah cerminan cara kerjamu.
Coba renungkan, bagian mana yang lebih meyakinkan dari dua kalimat ini: “Saya ngerti banget soal digital marketing” atau “Saya memiliki pemahaman komprehensif dan pengalaman terukur dalam strategi digital marketing.”?
Kalimat yang kedua, kan? Meski intinya sama, diksi yang kedua menunjukkan kedalaman dan profesionalisme.
Di dunia kerja, diksi yang tepat bisa membantumu menegosiasikan gaji, memimpin tim, atau meyakinkan investor. Ia adalah soft skill yang punya dampak nyata.
Banyak lulusan fresh graduate yang pintar secara teknis, tapi mentok karir karena kemampuan komunikasinya, termasuk diksi, kurang terasah.
Mereka kesulitan menyampaikan ide kompleks dengan bahasa yang runut dan meyakinkan. Ini adalah gap yang sering saya lihat dan coba diantisipasi dalam pengembangan materi pembelajaran.
Diksi itu Bukan Bakat, Tapi Kebiasaan
“Wah, saya nggak berbakat bahasa.” Stop! Pemikiran itu keliru. Memperkaya diksi adalah soal kebiasaan, bukan bakat. Seperti otot, ia bisa dilatih.
Beberapa cara simpel yang bisa kalian lakukan:
- Baca, Baca, dan Baca: Baca variasi teks. Mulai dari novel, opini di media seperti Kompas atau The Conversation, sampai artikel teknis di bidangmu. Perhatikan bagaimana penulis yang berbeda memilih kata untuk efek yang berbeda.
- Rajin Buka KBBI Daring (kbbi.kemdikbud.go.id): Jangan nebak! Cek arti, ejaan, dan contoh penggunaan katanya. Seringkali kita menemukan kata yang selama ini kita gunakan ternyata masih kurang tepat.
- Main dengan Sinonim: Coba latihan menulis satu paragraf pendek, lalu tulis ulang dengan sinonim yang berbeda. Perbedaannya akan terlihat jelas. Banyak aplikasi tesaurus (thesaurus) online yang bisa sangat membantumu melakukannya.
- Rekam dan Evaluasi: Coba rekam pidato atau presentasimu (bahkan presentasi kelompok). Dengarkan kembali. Apa ada kata yang diulang-ulang dan berlebihan? Apa ada kalimat yang terasa janggal? Nah, Ini adalah metode refleksi yang powerful.
- Diskusi dengan Orang yang Berbeda Latar: Ngobrol serius dengan guru, teman dari sekelasmu, atau profesional di bidang lain. Mereka akan memakai “kosakata khusus” yang bisa memperkaya kosakatamu.
Proses ini nggak instan. Butuh kesadaran dan konsistensi. Namun, hasilnya sepadan. Bayangkan, kamu akan jadi orang yang bisa menjelaskan hal rumit dengan sederhana, menulis proposal yang meyakinkan, dan menyampaikan kritik tanpa menyinggung. Itu adalah modal yang luar biasa.
Tantangan di Era Digital
Era digital membawa tantangan baru. Di satu sisi, media sosial dan platform seperti YouTube melahirkan kreativitas berbahasa yang segar—memunculkan diksi-diksi baru yang cepat viral dan dipahami generasi muda. Ini bagian dari dinamika bahasa.
Namun, di sisi lain, ada ancaman language degradation. Budaya komunikasi singkat (chat, tweet) sering mengabaikan diksi yang tepat.
Akhirnya, yang penting cepat, singkat, dan relatable, meski kadang mengorbankan ketepatan. Lebih parah lagi, algoritma media sosial seringkali mempertemukan kita dengan echo chamber, di mana diksi yang sama diulang-ulang, tanpa kita terbiasa dengan variasi dan nuansa.
Peran dunia pendidikan, dalam hal ini guru, dosen, dan praktisi seperti saya, adalah menjadi jembatan. Bukan melarang bahasa gaul atau tren, tetapi memperkenalkan bahwa ada banyak “lumbung kata” lain yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.
Bahwa selain kata “keren”, ada juga “memukau”, “fantastis”, “provokatif”, atau “inovatif”. Masing-masing punya “rasa” yang unik.
Kesimpulan
Jadi, gimana? Sudah lebih jelas kan?, kenapa diksi itu unsur penting yang nggak bisa kita anggap remeh? Ia adalah tulang punggung komunikasi yang efektif. Bukan untuk dibuat rumit, tapi justru untuk memudahkan hidup kita—dari urusan kelompok belajar sampai urusan naik jabatan.
Mulai hari ini, coba deh lebih peka terhadap kata-kata. Sebelum ngirim email penting, baca ulang. Sebelum presentasi, pilih tiga kata kunci yang mau kamu tonjolkan.
Seperti kata pepatah lama yang tetap relevan: “Bahasa menunjukkan bangsa.” Tapi, dalam level personal, bahasa, lewat diksi yang kita pilih, menunjukkan kualitas pikiran dan profesionalisme kita.
Yuk, kita jadikan kata bukan sekadar alat, tapi senjata andalan untuk membangun duniamu.
Pertanyaan Umum (FAQ):
Apa bedanya diksi dengan kosakata (vocabulary)?
Kosakata adalah seluruh perbendaharaan kata yang kamu kuasai. Sementara diksi adalah tindakan memilih dan menggunakan kata-kata tertentu dari perbendaharaan itu untuk situasi tertentu. Punya kosakata luas itu bagus, tapi kalau nggak bisa milih yang pas, ya percuma.
Apakah menggunakan diksi yang bagus berarti jadi terlihat sok atau nggak natural?
Nggak juga! Tujuannya adalah “pas”, bukan “sok”. Natural itu justru ketika kata-katamu sesuai dengan konteks. Saat ngobrol santai dengan teman, memaksakan kata-kata sastra yang jarang dipakai justru terasa nggak natural. Jadi, kunci utamanya adalah kesesuaian.
Bagaimana cara menghadapi orang yang diksinya “beracun” atau provokatif?
Pertama, pahami dulu konteks dan maksudnya. Kadang, orang memang sengaja pilih kata kasar untuk efek provokasi. Kedua, kamu bisa merespons dengan diksi yang lebih tenang dan objektif untuk meredakan situasi. Misal, “Saya mendengar kamu menggunakan kata X.
Saya pahami kamu sedang emosi, tapi bisakah kita bahas ini dengan kata Y dan Z agar lebih konstruktif?”. Dengan begitu, kamu mengontrol percakapan lewat diksi.
Seberapa sering kita harus mengupdate diksi kita?
Terus menerus! Bahasa itu hidup. Kata-kata baru muncul, makna lama bisa bergeser. Rajin membaca dan mengamati percakapan publik (di media, di kampus) adalah cara terbaik untuk tetap update. Ikuti juga perkembangan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) untuk istilah-istilah resmi.
Apakah salah menggunakan kata serapan (asing) dalam komunikasi?
Tidak salah, selama penggunaannya tepat dan diperlukan. Banyak kata serapan yang sudah sangat lazim (seperti “komputer”, “manajemen”).
Namun, kalau ada padanan Indonesianya yang sama baik dan sudah dipahami luas, kenapa nggak pakai yang Indonesia? Misal, “unggul” vs “superior”. Pilihannya tentu kembali ke konteks dan audiens.
