Peran Diksi dalam Menentukan Kejelasan dan Ketepatan Makna dalam Bahasa

Blog tentang Pendidikan - Pernah nggak sih, kamu merasa apa yang kamu tulis atau katakan kok sering disalahpahami? Atau, kamu pernah baca sebuah pengumuman resmi tapi bingung, "Ini maksudnya apa, ya?"

Di situlah peran diksi, satu seni memilih dan menggunakan kata menjadi kunci. Ini bukan cuma urusan penulis puisi atau penyair. Ini urusan siapa pun yang ingin pesannya jelas dan tepat. 

Dalam dunia pendidikan nasional yang sangat beragam seperti Indonesia, di mana kita berinteraksi dengan audiens dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, kesalahan kecil dalam memilih kata bisa berakibat besar pada miskomunikasi.

Nah, dalam artikel ini, Penulis akan bahas tuntas bagaimana pilihan kata menentukan apakah pesan kita melesat tepat sasaran atau justru nyasar. Kita lihat ini bukan dari teori semata, tapi dari pengalaman sehari-hari di kelas, rapat, dan komunikasi publik.

Kenapa Diksi Sering Dianggap Sepele Padahal Sangat Krusial?

Sebelum masuk lebih dalam, mari kita sepakati dulu apa itu diksi. Menurut Gorys Keraf, ahli bahasa ternama, diksi adalah kemampuan membedakan nuansa makna untuk menemukan bentuk yang tepat sesuai dengan ide dan situasi. 

Sederhananya, ini soal memilih kata yang paling pas dari sekumpulan kata yang tersedia. Saya sering melihat dalam naskah kebijakan pendidikan atau modul pelatihan, kesalahan diksi terjadi karena penulis terlalu fokus pada "kata yang benar secara tata bahasa", tapi lupa mempertimbangkan "kata yang tepat untuk pembacanya".

Contoh nyata yang sering muncul: penggunaan kata "miskin" versus "kurang mampu" dalam konteks program bantuan sosial sekolah. 

Kata "miskin" memiliki muatan konotatif yang bisa terasa merendahkan dan menyakitkan bagi sebagian orang, sementara "kurang mampu" lebih netral dan berfokus pada kondisi ekonomi. 

Pilihan ini bukan hanya soal sopan santun, tapi tentang empati dan efektivitas program agar sasaran merasa dihargai dan mau terlibat.

Dari pengalaman lapangan, tantangan terbesar di Indonesia adalah keragaman linguistik dan budaya. Sebuah istilah yang biasa di Jawa bisa memiliki konotasi yang sangat berbeda di Sumatra atau Papua. 

Oleh karena itu, ketepatan diksi menjadi penjaga utama agar esensi kebijakan atau materi pendidikan tidak bergeser maknanya ketika sampai ke daerah.

Bagaimana Diksi Membentuk Kejelasan dan Mencegah Ambigu?

Fungsi utama diksi adalah sebagai alat penyaring dan penajam pesan. Mekanismenya bekerja pada beberapa level:

1. Membedakan Makna Denotasi dan Konotasi

Setiap kata punya dua sisi makna:

  • Denotasi: Makna sebenarnya, lugas, dan objektif. Seperti kata "kepala" yang merujuk pada bagian tubuh di atas leher. Ini adalah makna kamus.
  • Konotasi: Makna tambahan, kiasan, atau emosional yang melekat. "Kepala" bisa bermakna "pemimpin" atau "orang yang paling bertanggung jawab".

Kejelasan pesan sangat bergantung pada kesadaran kita akan kedua lapisan makna ini. Dalam konteks pendidikan, misalnya, kata "guru" denotasinya adalah "pengajar". 

Namun, konotasinya di masyarakat Indonesia sangat dalam: seorang pembimbing, panutan, bahkan seperti orang tua kedua. 

Saat menyusun surat edaran tentang kewajiban guru, memilih kata yang hanya menyentuh denotasi tanpa menghargai konotasi bisa terasa hambar dan tidak mengena. Sebaliknya, memanfaatkan konotasi positif dapat membangun semangat dan rasa hormat.

Baca Juga:
Konsep Dasar Diksi dalam Bahasa Indonesia

2. Memanfaatkan Relasi Kata

Inilah senjata rahasia diksi. Kita sering mengira kata yang mirip artinya bisa dipertukarkan. Faktanya, tidak. Mari kita ambil contoh dari dunia evaluasi pembelajaran:

  • "Menilai", "menguji", dan "mengukur" sering dianggap sinonim.
  • Namun, nuansanya berbeda. "Mengukur" lebih kuantitatif dan objektif (seperti mengukur tinggi badan). "Menguji" mengandung unsur tantangan dan pembuktian (seperti ujian sekolah). "Menilai" lebih komprehensif, bisa mencakup aspek kualitatif dan pertimbangan (seperti menilai karakter peserta didik).
  • Memilih kata yang salah dapat menyesatkan tujuan evaluasi. Apakah kita ingin mendapatkan angka (ukur), ingin tahu kemampuan (uji), atau ingin memberikan gambaran holistik (nilai)?

3. Menghindari Jebakan Homonim dan Polisemi

Bahasa Indonesia kaya akan kata yang bunyi/tulisannya sama, tapi maknanya beda (hominim), atau kata yang memiliki banyak makna terkait (polisemi). Kata "bisa" adalah contoh klasik: bisa berarti "mampu" atau "racun ular". 

Bayangkan jika ada kalimat dalam petunjuk keselamatan praktikum: "Hati-hati, ular di lab bisa menggigit." Apakah ini peringatan bahwa ular itu "mampu" menggigit, atau bahwa ular itu memiliki "racun"? 

Ketidakjelasan ini berpotensi fatal. Diksi yang tepat akan memilih kata yang lebih spesifik: "Hati-hati, ular di lab berbisa dan dapat menggigit."

Strategi Memilih Diksi yang Efektif

Jadi, bagaimana cara kita memilih kata yang bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga tepat guna? 

Berdasarkan praktik terbaik dalam pengembangan materi kurikulum dan komunikasi pendidikan, setidaknya ada tiga kriteria yang harus dipenuhi sekaligus:

Kriteria #1: Ketepatan (Accuracy)

Ini adalah satu fondasi penting. Kata yang dipilih harus sesuai dengan kaidah bahasa dan merepresentasikan ide yang ingin disampaikan dengan benar. 

Cara mengeceknya adalah dengan bertanya: "Apakah ada kata lain yang lebih tepat mewakili ide ini?" Penggunaan istilah teknis harus konsisten. 

Misalnya, dalam dokumen kurikulum, pilih secara konsisten antara "Capain Pembelajaran" (CP) atau "Kompetensi Dasar" (KD), jangan dicampur-campur karena bisa membingungkan guru di lapangan.

Kriteria #2: Kecermatan (Precision)

Ini adalah bagian dari efisiensi bahasa. Hilangkan kata-kata mubazir yang tidak menambah informasi. Bandingkan dua kalimat ini:

  1. Kurang cermat: "Proses pembelajaran di dalam kelas diharapkan agar dapat berlangsung dengan suasana yang interaktif dan komunikatif."
  2. Lebih cermat: "Pembelajaran di kelas diharapkan berlangsung interaktif dan komunikatif."

Kalimat kedua lebih ringkas, padat, dan langsung ke inti. Dalam menyampaikan informasi penting, setiap kata harus punya tugas yang jelas.

Kriteria #3: Keserasian (Appropriateness)

Ini adalah faktor penentu penerimaan pesan. Kata harus sesuai dengan konteks, situasi, budaya, dan latar belakang penerima. Sebuah kata mungkin tepat dan cermat, tetapi jika tidak serasi dengan budayanya, pesan akan ditolak.

  • Konteks Formal vs Informal: Kata "bapak/ibu" lebih serasi dalam surat dinas, sementara "kamu/kalian" mungkin lebih cocok untuk panduan belajar siswa yang ramah.
  • Mempertimbangkan Audiens: Penjelasan tentang "fotosintesis" untuk siswa SD akan menggunakan diksi yang sangat berbeda (lebih sederhana, analogi) dibandingkan untuk mahasiswa S1 Biologi (lebih teknis, ilmiah).

Nah, ketiga kriteria ini harus dipenuhi secara bersamaan. Sebuah kata yang tepat secara makna (akurat) dan ringkas (cermat), tetapi diucapkan dengan nada merendahkan (tidak serasi), tetaplah akan gagal mencapai tujuannya.

Baca Juga:
Pentingnya Pemilihan Kata Yang Tepat

Diksi dalam Aksi: Contoh dari Dunia Pendidikan Nyata

Mari kita lihat bagaimana prinsip diksi bekerja dalam skenario pendidikan sehari-hari:

Skenario & Diksi yang Kurang Optimal Analisis Masalah Diksi yang Lebih Efektif & Alasannya
Pengumuman untuk Orang Tua: "Anak-anak yang nakal akan diberikan pembinaan khusus." Kata "nakal" sangat subjektif, bernilai negatif tinggi, dan dapat menstigma. Orang tua mungkin merasa diserang. "Peserta didik yang memerlukan pendampingan lebih dalam perilaku akan mengikuti program bimbingan."

Alasan: Lebih objektif, fokus pada solusi ("pendampingan"), dan menggunakan istilah netral ("perilaku").
Instruksi Tugas Kelompok: "Kerjakan tugas ini dengan teman sekelompokmu." Kata "kerjakan" terlalu umum. Apakah hanya membagi soal? Atau berdiskusi? Tujuannya tidak jelas. "Diskusikan, analisis, dan selesaikan tugas ini secara kolaboratif dalam kelompok."

Alasan: Menggunakan kata kerja operasional yang spesifik sehingga proses dan outcome yang diharapkan lebih terukur.
Umpan Balik untuk Siswa: "Hasil rapormu jelek." Kata "jelek" destruktif, tidak informatif, dan merusak motivasi. Tidak memberikan arah perbaikan. "Ada beberapa kompetensi yang masih perlu dikuatkan. Mari kita lihat bagian ini untuk rencana belajarmu ke depan."

Alasan: Menggunakan bahasa yang membangun (perlu dikuatkan), berfokus pada masa depan, dan mengajak kolaborasi.

Dari contoh-contoh di atas, kita bisa lihat bahwa diksi yang baik selalu berorientasi pada dampak dan pemahaman audiens. 

Bukan tentang menunjukkan siapa yang lebih pintar dalam berbahasa, tapi tentang memastikan transfer ilmu dan nilai terjadi dengan baik.

Langkah-Langkah Praktis Melatih Ketajaman Diksi

  1. Perbanyak Membaca Ragam Teks: Jangan hanya membaca satu jenis. Baca berita, sastra, jurnal ilmiah, dan bahkan konten media sosial yang berkualitas. Perhatikan bagaimana pilihan kata berubah sesuai medianya.
  2. Gunakan KBBI Daring dan Tesaurus: Saat ragu, buka KBBI Daring untuk memastikan makna denotatif. Gunakan Tesaurus untuk menemukan sinonim dan melihat nuansanya. Ini adalah kebiasaan profesional.
  3. Lakukan "Uji Baca Nyaring": Setelah menulis, bacalah teksmu dengan suara keras. Telinga sering kali menangkap kejanggalan dan ketidaknyamanan yang terlewat oleh mata. Jika terdengar aneh atau ambigu, berarti ada yang perlu diperbaiki.
  4. Berlatih Parafrase: Ambil satu kalimat panjang atau rumit, lalu tulis ulang dengan kata-katamu sendiri dalam beberapa versi (versi formal, versi santai). Latihan ini melatih kelincahan dalam memilih kata.
  5. Minta Umpan Balik: Mintalah orang lain (yang mewakili audiens target) untuk membaca tulisannu. Tanyakan apakah ada kata atau kalimat yang membingungkan. Persepsi penerima adalah ukuran akhir dari kejelasan diksi kita.

Diksi adalah Jembatan Menuju Pembelajaran yang Inklusif

Dalam konteks pendidikan nasional yang inklusif, diksi memegang peran strategis. Bahasa yang tepat dapat membuka pintu, sementara bahasa yang ceroboh dapat mengucilkan. 

Pertimbangkan peserta didik dengan kebutuhan khusus, atau dari latar belakang bahasa daerah yang kuat. Penggunaan diksi yang jelas, positif, dan bebas dari prasangka (bias) sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi semua.

Ingatlah bahwa memilih kata adalah tindakan yang penuh tanggungjawab. Setiap kata yang kita ucapkan atau tulis dalam kapasitas sebagai pendidik, tenaga kependidikan, atau pemangku kebijakan, memiliki energi untuk membangun atau justru menghalangi proses pembelajaran.

Dengan mengutamakan kejelasan dan ketepatan makna, kita bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga membangun pemahaman, menghormati penerima, dan pada akhirnya, memperkuat jembatan komunikasi yang merupakan jantung dari semua proses pendidikan.

Kesimpulan

Jadi, menguasai diksi itu seperti memiliki kotak perkakas bahasa yang lengkap. Kamu tahu kapan harus menggunakan "palu" (kata yang tegas), kapan menggunakan "obeng" (kata yang tepat untuk menyetel pemahaman), dan kapan cukup dengan "amplas" (kata yang merapikan dan menghaluskan pesan).

Mulai sekarang, coba deh lebih sadar dengan kata-kata yang kamu pilih, baik di grup WhatsApp kelas, dalam lembar kerja siswa, maupun saat menjelaskan di depan. Satu kata yang diganti bisa mengubah seluruh atmosfer penerimaannya. Bagaimana, tertarik untuk lebih jeli lagi memilih kata?

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah diksi yang baik berarti selalu harus menggunakan kata-kata yang baku dan formal?

Tidak selalu. Diksi yang baik adalah yang sesuai konteks. Dalam pembelajaran untuk anak-anak, bahasa yang ramah, sederhana, dan menggunakan kata sehari-hari justru lebih efektif. Kuncinya adalah kesesuaian, bukan sekadar kebakuan.

Bagaimana cara menghindari kesalahan diksi dalam terjemahan atau adaptasi materi ke bahasa daerah?

A: Ini tantangan besar. Kuncinya adalah melibatkan penutur asli dan ahli budaya lokal (local wisdom holder) dalam proses review. Jangan hanya menerjemahkan kata per kata, tapi transkontekstualisasikan maknanya. Seringkali, perlu dicari padanan konsep, bukan padanan kata.

Saya sering kesulitan membedakan sinonim. Apakah ada tipsnya?

Coba perhatikan konteks penggunaannya dalam kalimat lengkap. Sering-seringlah membaca contoh penggunaannya di korpus bahasa (seperti Korpus UI). 

Bertanya kepada ahli bahasa atau kolega juga sangat membantu. Ingat, perbedaan sinonim seringkali terletak pada rasa bahasa (sense of language) yang diasah dengan banyak membaca dan mendengar.

Apakah alat pemeriksa tata bahasa (grammar checker) otomatis sudah cukup untuk menjamin diksi yang baik?

Tidak. Alat tersebut membantu menangkap kesalahan ketik atau tata bahasa dasar, tetapi tidak memahami nuansa makna, konotasi, dan kesesuaian budaya. Analisis manusia dan pertimbangan konteks tetap tidak tergantikan. Gunakan alat sebagai asisten, bukan sebagai hakim akhir.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url