Belajar Teks Narasi: Definisi, Tujuan, Struktur, Ciri-ciri, Kaidah & Contoh

https://www.sababolak.web.id/

Blog tentang Pendidikan - Pernahkah kita merasa hanyut dalam sebuah cerita hingga lupa waktu? Atau tiba-tiba terbawa emosi saat membaca novel dan cerpen? 

Itulah kekuatan teks narasi, salah satu bagian penting dari macam-macam teks dalam bahasa Indonesia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari, teks narasi menjadi jenis teks yang akrab menemani berbagai pengalaman kita. 

Saat seseorang bercerita tentang pengalaman liburan, ketika kita membaca dongeng sebelum tidur, atau saat menikmati biografi tokoh idola, kita sedang berinteraksi dengan teks narasi.

Dalam dunia pendidikan Indonesia, pemahaman tentang teks narasi menjadi fondasi penting untuk mengembangkan kemampuan bercerita, berimajinasi, dan menuangkan gagasan secara runtut. 

Artikel ini akan mengajak kita menyelami secara mendalam tentang teks narasi, mulai dari definisi hingga contoh konkret yang bisa langsung dipahami.

Pengertian Teks Narasi

Pengertian Teks Narasi secara sederhana adalah jenis teks yang menceritakan serangkaian peristiwa secara kronologis berdasarkan urutan waktu. Kata “narasi” berasal dari bahasa Latin narrare yang berarti bercerita, dan dalam bahasa Indonesia, teks narasi menyajikan kisah dari awal, pertengahan, hingga akhir.

Beberapa ahli memberikan definisi yang saling melengkapi. Gorys Keraf menjelaskan bahwa teks narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian kejadian. 

Sirait menekankan fokus pada tindakan atau aksi sebagai inti cerita. Sementara Widjono H.S menyoroti urutan kronologis dan keterkaitan antarperistiwa sehingga cerita terlihat koheren dan runtut.

Secara praktis, teks narasi hadir dalam berbagai bentuk karya tulis seperti cerpen, novel, dongeng, hikayat, cerita fantasi, fabel, teks sejarah, biografi, atau kisah inspiratif. 

Fleksibilitas ini memungkinkan teks narasi mengakomodasi berbagai jenis cerita, baik faktual maupun imajinatif, sesuai tujuan dan konteks komunikasinya.

Tujuan Teks Narasi

Setiap teks lahir dengan tujuan tertentu, begitu pula teks narasi. Tujuan utama teks narasi adalah menghibur pembaca melalui cerita yang disajikan. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, tujuan teks narasi jauh lebih kaya daripada sekadar hiburan semata, mencakup pengalaman estetis, pengetahuan, dan pesan moral.

Pertama, teks narasi membantu pembaca memahami cerita dengan lebih jelas melalui imajinasi. Pembaca seolah-olah turut mengalami peristiwa yang diceritakan, menciptakan pengalaman estetis yang membawa mereka masuk ke dalam dunia cerita. Hal ini membuat membaca bukan sekadar aktivitas pasif, tetapi pengalaman yang hidup dan menyenangkan.

Kedua, teks narasi menyampaikan informasi atau wawasan kepada pembaca. Contohnya, teks narasi sejarah atau biografi tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang peristiwa masa lalu atau perjalanan hidup seseorang. Dengan begitu, teks narasi dapat menjadi jembatan antara hiburan dan edukasi.

Ketiga, teks narasi menyampaikan pesan moral atau amanat tertentu. Baik fiksi maupun nonfiksi, cerita hampir selalu mengandung nilai yang ingin dibagikan penulis, baik secara tersurat maupun tersirat. Pesan ini memungkinkan pembaca memetik hikmah dari setiap kisah yang mereka baca.

Keempat, teks narasi memberikan pengalaman estetis melalui penggunaan bahasa indah dan figuratif. Dalam teks narasi artistik, keindahan bahasa menjadi nilai tambah yang membuat cerita hidup, berkesan, dan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Ciri-ciri Teks Narasi

Bagaimana kita mengenali sebuah teks termasuk narasi? Ciri-ciri teks narasi membedakannya dari jenis teks lain melalui beberapa aspek penting yang membuat cerita hidup dan mudah diikuti.

  1. Cerita atau Rangkaian Kejadian Kronologis

    Teks narasi selalu menyajikan peristiwa secara berurutan, sehingga pembaca dapat mengikuti alur dengan jelas. Biasanya, cerita terdiri dari pendahuluan, perkembangan plot, klimaks, dan penyelesaian.

  2. Memiliki Konflik

    Konflik menjadi inti cerita yang menciptakan ketegangan dan menarik minat pembaca. Bentuknya bisa berupa pertentangan tokoh dengan diri sendiri, tokoh lain, atau lingkungan.

  3. Memiliki Tokoh dan Karakter

    Cerita narasi melibatkan tokoh yang bisa berupa manusia, hewan, benda yang dipersonifikasikan, atau entitas fiksi lain. Setiap tokoh memiliki karakter khas yang memengaruhi jalannya cerita.

  4. Menggunakan Gaya Bahasa Naratif

    Bahasa dalam teks narasi bersifat deskriptif dan imajinatif, menggunakan majas atau ekspresi kreatif untuk menghidupkan cerita dan mengekspresikan emosi tokoh.

  5. Memiliki Alur Jelas

    Alur cerita dapat kronologis (maju), mundur (flashback), atau campuran. Yang penting, pembaca dapat mengikuti perjalanan cerita tanpa kebingungan.

  6. Menekankan Urutan Waktu

    Teks narasi menempatkan peristiwa dalam kerangka waktu tertentu, baik spesifik (“pada 17 Agustus 1945”) maupun relatif (“pagi itu”, “setelah kejadian tersebut”).

  7. Mengandung Pesan atau Amanat

    Hampir semua teks narasi menyertakan pesan atau amanat berupa nilai moral, pelajaran hidup, atau kritik sosial, sehingga pembaca mendapatkan makna dari cerita.

Dengan memahami ciri-ciri teks narasi, pembaca dan penulis dapat lebih mudah mengenali, menulis, dan menganalisis cerita secara efektif.

Struktur Teks Narasi

Agar sebuah cerita dapat dipahami dengan baik, teks narasi memiliki struktur baku yang menjadi kerangka penulisannya. Struktur ini membantu penulis menyusun cerita secara runtut dan menarik .

1. Orientasi

Orientasi adalah tahap pembukaan teks narasi yang memperkenalkan unsur penting cerita, seperti tokoh, latar tempat, latar waktu, dan suasana awal. 

Bagian ini memberi gambaran kepada pembaca tentang apa yang akan terjadi sehingga mereka mulai mengenali siapa tokohnya, di mana cerita berlangsung, dan kapan peristiwa terjadi.

Contohnya, dalam cerita perjuangan: "Di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi, hiduplah seorang pemuda bernama Joko yang bercita-cita menjadi guru." 

Kalimat ini langsung memperkenalkan tokoh (Joko), tempat (desa di lereng Gunung Merapi), dan kondisi awal (pemuda dengan cita-cita), sehingga pembaca siap mengikuti alur cerita selanjutnya.

2. Komplikasi

Komplikasi adalah bagian di mana konflik mulai muncul dan berkembang, memaparkan peristiwa penting, latar belakang masalah, serta pemicu pertentangan antar tokoh. Di sini, kejadian demi kejadian mengalir hingga konflik mencapai puncak ketegangan atau klimaks.

Bagian ini menjadi inti daya tarik cerita karena menimbulkan rasa penasaran pembaca: "Bagaimana kelanjutan ceritanya?" atau "Bisakah tokoh utama mengatasi masalahnya?" Ketegangan yang dibangun membuat pembaca terlibat secara emosional dan terus mengikuti alur cerita hingga selesai.

3. Resolusi

Setelah mencapai klimaks, tibalah saatnya konflik mulai menemukan penyelesaian. Resolusi adalah bagian di mana masalah yang dihadapi tokoh utama mulai teratasi . 

Penulis menjelaskan bagaimana konflik dapat diselesaikan, baik dengan cara yang menggembirakan (happy ending) maupun sebaliknya (sad ending). Bagian ini memberikan kepuasan kepada pembaca karena cerita mulai mencapai akhir yang jelas.

4. Reorientasi

Reorientasi adalah bagian penutup yang bersifat opsional atau tidak wajib ada dalam sebuah teks narasi . Bagian ini biasanya berisi pesan moral atau kesimpulan dari cerita. 

Tidak semua teks narasi memiliki reorientasi, tetapi jika ada, bagian ini memberikan nilai tambah pada cerita karena pembaca bisa merenungkan makna di balik kisah yang baru saja dibaca .

Unsur-unsur Teks Narasi

Selain struktur, teks narasi juga dibangun oleh unsur-unsur intrinsik yang saling terkait dan menjadi fondasi cerita agar utuh dan hidup. Pemahaman terhadap unsur-unsur ini membantu pembaca dan penulis menangkap makna serta pesan yang ingin disampaikan dalam setiap narasi.

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok yang menjadi dasar cerita dan menentukan arah serta pesan narasi. Bisa berupa nilai moral, sosial, budaya, agama, atau kehidupan sehari-hari, misalnya persahabatan, perjuangan, pengorbanan, atau kritik sosial.

2. Latar

Latar menjelaskan ruang, waktu, dan suasana peristiwa sehingga pembaca dapat membayangkan konteks cerita. Latar terbagi menjadi:

  • Latar tempat: di sekolah, pantai, desa, atau kerajaan.
  • Latar waktu: pagi hari, tahun tertentu, atau era sejarah.
  • Latar suasana: mencekam, romantis, atau penuh kegembiraan.

3. Penokohan atau Karakter

Penokohan menggambarkan watak tokoh melalui sikap, keinginan, emosi, atau prinsip moral. Karakter bisa dijelaskan langsung (“Andi pemarah”) atau tidak langsung melalui dialog, pikiran, dan interaksi tokoh lain. Tokoh biasanya dibagi menjadi protagonis (baik), antagonis (jahat), dan tritagonis (penengah).

4. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan sebab-akibat, membentuk cerita utuh. Alur dapat berupa:

  • Alur maju: kronologis dari awal hingga akhir.
  • Alur mundur: cerita kembali ke masa lalu melalui kilas balik.
  • Alur campuran: kombinasi maju dan mundur.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang menentukan posisi penulis dalam menyampaikan cerita dan interaksi dengan pembaca. Umumnya digunakan:

  • Orang pertama: penulis sebagai pelaku (“aku”/“saya”).
  • Orang ketiga: penulis sebagai pengamat (“dia”/nama tokoh).

6. Amanat

Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis, bisa tersurat maupun tersirat. Melalui amanat, pembaca diharapkan mengambil pelajaran berharga dari cerita.

Dengan memahami unsur-unsur teks narasi, penulis dapat menyusun cerita yang runtut, hidup, dan bermakna, sementara pembaca dapat menangkap pesan dan makna yang terkandung secara lebih efektif.

Jenis-jenis Teks Narasi

Para ahli membagi teks narasi ke dalam beberapa jenis berdasarkan tujuan dan cara penyajiannya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bukunya Teks Narasi dan Literasi Buku Fiksi-Nonfiksi (2018) membagi teks narasi menjadi tiga jenis utama . Namun, beberapa sumber menambahkan jenis keempat untuk melengkapi klasifikasi tersebut.

1. Narasi Informatif (Ekspositoris)

Narasi informatif adalah karangan yang bertujuan menyampaikan sebuah informasi dengan tepat mengenai suatu peristiwa atau kejadian . Narasi jenis ini mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan faktual, sehingga logika menjadi hal terpenting dalam penyusunannya .

Ciri khas narasi informatif adalah penggunaan bahasa yang logis, sesuai fakta, dan bersifat objektif. Penulis tidak boleh membumbui cerita dengan imajinasi atau fiksi. 

Contoh narasi informatif antara lain biografi, autobiografi, dan teks cerita sejarah . Teks "Perang Surabaya" yang menceritakan pertempuran 10 November 1945 adalah contoh narasi informatif karena menyajikan fakta sejarah secara kronologis .

2. Narasi Artistik

Narasi artistik adalah karangan yang menceritakan suatu kisah atau peristiwa dengan tujuan memberikan pengalaman estetis kepada pembacanya . Cerita dalam narasi artistik bisa berupa fiksi maupun nonfiksi, namun yang membedakannya adalah penggunaan bahasa figuratif atau kiasan yang indah .

Tujuan utama narasi artistik adalah mencapai kesan estetis dan menghibur pembaca melalui keindahan bahasa. Contoh narasi artistik antara lain cerpen, novel, cerita rakyat, dan dongeng . Dalam narasi artistik, penulis bebas berimajinasi dan menggunakan majas untuk memperindah cerita.

3. Narasi Sugestif

Narasi sugestif adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kisah dengan maksud terselubung kepada para pembaca atau pendengarnya . Jenis ini bersifat fiktif dan menggunakan imajinasi untuk mencapai kesan terhadap peristiwa yang diceritakan.

Tujuan narasi sugestif adalah memberikan pengaruh atau sugesti kepada pembaca sehingga mereka tergerak hatinya untuk mempercayai suatu hal . 

Contoh narasi sugestif dapat ditemukan dalam buku-buku pengembangan diri atau cerita inspiratif yang bertujuan membuat seseorang menjadi lebih baik. 

Cerita "Apa yang Ditanam Itu yang Dituai" tentang Budi yang menolong ibu korban pencurian adalah contoh narasi sugestif yang mengajarkan tentang kebaikan .

4. Narasi Fiksi dan Nonfiksi

Selain ketiga jenis di atas, beberapa sumber juga mengklasifikasikan teks narasi berdasarkan sifat ceritanya menjadi narasi fiksi dan narasi nonfiksi .

Narasi fiksi adalah cerita rekaan atau khayalan penulis yang tidak berdasarkan kejadian nyata. Contohnya novel, cerpen, dongeng, dan cerita fantasi. Dalam narasi fiksi, penulis memiliki kebebasan penuh untuk mengembangkan cerita sesuai imajinasinya.

Narasi nonfiksi adalah cerita yang berdasarkan kejadian nyata atau fakta. Contohnya biografi, autobiografi, dan teks cerita sejarah. Dalam narasi nonfiksi, penulis terikat pada fakta dan data yang akurat.

Kaidah Kebahasaan Teks Narasi

Setiap jenis teks memiliki kaidah kebahasaan yang khas, demikian pula dengan teks narasi. Kaidah kebahasaan berfungsi sebagai tata bahasa yang membuat teks narasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan enak dibaca . Berikut adalah kaidah kebahasaan teks narasi menurut Kemendikbud .

1. Menggunakan Kata Ganti Nama Orang

Teks narasi menggunakan kata ganti nama orang untuk menentukan sudut pandang penceritaan. Kata ganti yang digunakan bisa berupa "aku", "saya", "kami" (untuk sudut pandang orang pertama) atau "dia", "ia", "mereka" (untuk sudut pandang orang ketiga) . Penggunaan kata ganti ini konsisten sepanjang cerita sesuai sudut pandang yang dipilih penulis.

2. Menggunakan Kata yang Mendeskripsikan Latar

Teks narasi banyak menggunakan kata-kata yang mendeskripsikan latar, baik latar tempat, waktu, maupun suasana . Deskripsi ini membantu pembaca membayangkan setting cerita dengan lebih jelas. 

Contoh kata yang mendeskripsikan latar tempat: "di pantai berpasir putih", "di hutan belantara", "di ruang tamu yang sempit". Contoh kata yang mendeskripsikan latar waktu: "pagi yang cerah", "senja mulai merambat", "di malam yang dingin". Contoh kata yang mendeskripsikan suasana: "hening", "gaduh", "mencekam", "romantis".

3. Menggunakan Kata Kiasan (Metafora)

Teks narasi, terutama narasi artistik dan sugestif, banyak menggunakan kata kiasan atau metafora untuk memperindah cerita. 

Metafora adalah kata atau kelompok kata yang tidak mewakili arti sebenarnya, melainkan digunakan untuk membandingkan dua hal secara langsung . 

Contoh metafora: "raja siang" untuk matahari, "tulang punggung" untuk pencari nafkah, "kembang desa" untuk gadis tercantik di desa.

4. Menggunakan Konjungsi Kronologis

Konjungsi kronologis atau kata sambung yang menandakan urutan waktu sangat penting dalam teks narasi . Kata sambung ini berfungsi menghubungkan antarperistiwa dan menunjukkan perubahan waktu, perubahan latar, hingga kedatangan tokoh lain. 

Contoh konjungsi kronologis: "setelah itu", "kemudian", "sementara itu", "lalu", "sebelumnya", "akhirnya", "pada suatu hari".

5. Menggunakan Kata Kerja Transitif dan Intransitif

Teks narasi menggunakan kata kerja transitif (kata kerja yang membutuhkan objek) dan kata kerja intransitif (kata kerja yang tidak membutuhkan objek) . 

Contoh kata kerja transitif: "membaca buku", "memasak nasi", "menendang bola". Contoh kata kerja intransitif: "tidur", "tertawa", "jatuh".

6. Menggunakan Dialog atau Kalimat Langsung

Teks narasi sering menggunakan dialog atau kalimat langsung untuk menghidupkan interaksi antartokoh . Penggunaan kalimat langsung membuat cerita terasa lebih hidup dan pembaca dapat merasakan emosi yang dialami tokoh. Contoh kalimat langsung: "Aku tidak akan menyerah!" teriak Joko dengan lantang.

7. Menggunakan Kata atau Ungkapan yang Menandakan Keterkejutan

Teks narasi juga menggunakan kata atau ungkapan yang menandakan keterkejutan untuk menggerakkan cerita atau menandakan masalah dimulai . Contoh ungkapan keterkejutan: "tiba-tiba", "tak disangka", "seketika", "dengan cepat".

Contoh Teks Narasi

Setelah memahami berbagai aspek teks narasi, mari kita lihat beberapa contoh konkret yang akan memperjelas pemahaman kita.

Contoh 1: Teks Narasi Sejarah (Informatif/Ekspositoris)

Peristiwa Rengasdengklok

Pada 16 Agustus 1945, dini hari, sekelompok pemuda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Mereka mendesak kedua tokoh ini segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu janji Jepang.

Soekarno awalnya menolak karena ingin memastikan situasi aman. Namun setelah diskusi alot, ia akhirnya setuju. Malam harinya, mereka kembali ke Jakarta dan langsung menuju rumah Laksamana Maeda untuk menyusun teks proklamasi.

Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dibacakan di Pegangsaan Timur No. 56. Peristiwa Rengasdengklok menjadi titik penting yang memastikan kemerdekaan Indonesia tidak tertunda.

Analisis Penulis: 

Contoh di atas memenuhi ciri teks narasi karena disajikan secara kronologis, bersifat faktual dengan keterangan waktu, tempat, dan tokoh, serta memiliki struktur cerita yang jelas .

Contoh 2: Teks Narasi Fiksi (Artistik)

Warung Kopi Bu Sri

Setiap senja, warung kopi Bu Sri selalu dipenuhi langganan. Aroma kopi tubruk bercampur asap rokok menari-nari di bawah lampu temaram.

"Kopi hitam, Pak?" sapa Bu Sri pada seorang lelaki yang baru duduk.

Lelaki itu mengangguk, matanya menerawang ke luar warung. Hujan mulai turun, membasahi jalan kampung yang sunyi.

"Masih seperti dulu, ya, Bu? Kopi Bu Sri tidak pernah berubah rasa," katanya lirih.

Bu Sri tersenyum, menuangkan kopi ke cangkir keramik retak di ujungnya. "Yang berubah hidup, Mas. Kopi ya begitu-begitu saja."

Lelaki itu tertawa kecil, lalu menyeruput kopinya perlahan. Di luar, hujan semakin deras, seolah menangis bersama kenangan yang tiba-tiba datang bertamu.

Analisis Penulis: 

Contoh narasi artistik di atas menggunakan bahasa figuratif dan deskriptif untuk menciptakan suasana. Penggunaan metafora seperti "mentari belum bangun dari peraduannya" dan deskripsi fisik tokoh yang detail membuat pembaca dapat membayangkan cerita dengan jelas .

Contoh 3: Teks Narasi Sugestif

Tiga butir Nasi

Setiap habis makan, ibu selalu mengambil tiga butir nasi yang tersisa di piringku dan memakannya.

"Apa tidak jijik, Bu?" tanyaku suatu hari.

Ibu tersenyum. "Nak, di luar sana ada anak seusiamu yang rela berjalan kaki sepuluh kilometer hanya untuk mendapatkan segenggam nasi."

Aku hanya diam.

Lima belas tahun kemudian, aku menjadi manajer di perusahaan besar. Suatu siang, karyawan magang menyisakan separuh nasi di boks makannya. Tanpa sadar, tanganku meraih boks itu dan menghabiskan sisanya.

Karyawan itu memandang heran.

"Apa kamu tahu," kataku, "ada anak seusiamu yang rela bekerja seharian hanya untuk makan satu kali?"

Ia tertunduk. Sejak hari itu, tidak ada setitik nasi pun yang tersisa di meja kantor.

Analisis Penulis:

Contoh narasi sugestif di atas mengandung pesan moral tentang kebaikan yang akan berbuah kebaikan pula. Cerita ini memberikan sugesti kepada pembaca untuk selalu berbuat baik karena kebaikan akan kembali kepada kita .

Contoh 4: Teks Narasi Singkat (Pengalaman Pribadi)

Kucing di Pinggir Jalan

Pulang sekolah, aku melihat seekor kucing kecil tergeletak di pinggir jalan. Kakinya pincang, matanya sayu memohon.

Aku ragu. Rumahku tidak boleh memelihara kucing. Tapi melihat tubuh mungilnya yang menggigil, aku mengangkatnya dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam tas.

Di rumah, ibu marah. "Buang!" bentaknya.

Aku hampir menangis. Tapi adikku tiba-tiba keluar kamar. "Bu, aku mau pelihara. Aku akan bertanggung jawab."

Ibu terdiam, lalu menghela napas panjang. "Baiklah, tapi kau yang urus."

Kucing itu kini gemuk dan lucu. Setiap pulang sekolah, ia selalu menyambutku di pintu. Kadang aku berpikir, mungkin aku tidak menyelamatkannya, tapi justru dialah yang menyelamatkanku dari rasa sepi.

Kesimpulan

Teks narasi menceritakan serangkaian peristiwa secara kronologis dengan tujuan utama menghibur, sekaligus menyimpan nilai pendidikan yang kaya. 

Melalui narasi, pembaca dapat belajar tentang kehidupan, mengambil hikmah dari pengalaman orang lain, dan mengembangkan empati. Pemahaman teks narasi mencakup pengertian, tujuan, ciri-ciri, struktur, unsur, jenis, dan kaidah kebahasaan.

Struktur teks narasi—orientasi, komplikasi, resolusi, dan reorientasi—membantu penulis menyusun cerita secara runtut, sementara unsur seperti tema, latar, tokoh, alur, sudut pandang, dan amanat membuat cerita hidup dan bermakna. 

Jenis narasi berbeda sesuai tujuan: informatif menyampaikan fakta, artistik menekankan keindahan bahasa, dan sugestif memengaruhi pembaca.

Penguasaan teks narasi merupakan keterampilan fundamental dalam pendidikan, bukan hanya untuk menulis cerita, tetapi juga untuk berpikir runtut, berimajinasi, dan mengomunikasikan gagasan secara efektif. 

Memahami narasi dengan mendalam menjadikan pembaca lebih kritis dan penulis lebih terampil menuangkan ide ke dalam kata-kata.

FAQ Seputar Teks Narasi

  1. Apa perbedaan teks narasi dan teks deskripsi?
    Narasi menceritakan peristiwa secara kronologis, sedangkan deskripsi menggambarkan objek secara rinci sehingga pembaca seolah melihat atau merasakannya. Narasi seperti video, deskripsi seperti foto.

  2. Apakah semua cerita termasuk teks narasi?
    Ya, selama memiliki alur, tokoh, konflik, dan disusun kronologis. Cerpen, novel, dongeng, biografi, dan teks sejarah termasuk narasi.

  3. Apa itu reorientasi dalam teks narasi?
    Reorientasi adalah penutup opsional yang biasanya berisi pesan moral atau kesimpulan, memberi nilai tambah bagi pembaca.

  4. Bagaimana membedakan narasi informatif dan artistik?
    Informative menyampaikan fakta secara logis dan objektif (contoh: biografi, sejarah), sedangkan artistik menekankan pengalaman estetis dengan bahasa figuratif (contoh: cerpen, novel).

  5. Konjungsi kronologis yang sering digunakan?
    “Setelah itu”, “kemudian”, “lalu”, “sebelumnya”, “sementara itu”, “pada akhirnya”, “tak lama kemudian”, “pada suatu hari”, “ketika itu”—menghubungkan peristiwa sesuai urutan waktu.

  6. Apakah teks berita termasuk narasi?
    Teks berita bisa mengandung unsur narasi karena menyajikan peristiwa kronologis, tetapi umumnya dikategorikan sendiri dengan struktur piramida terbalik dan unsur 5W+1H.

  7. Mengapa konflik penting dalam narasi?
    Konflik menjadi jantung cerita, menciptakan ketegangan, menarik minat pembaca, sekaligus menyampaikan pesan moral dan menunjukkan perkembangan karakter.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url