150+ Contoh Majas Berbagai Jenis dalam Kalimat yang Mudah Dipahami
Blog tentang Pendidikan - Contoh majas adalah salah satu materi yang paling sering dicari siswa, guru, maupun pembelajar bahasa karena majas menjadi kunci untuk memahami keindahan bahasa.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, majas bukan sekadar hiasan kata, melainkan cara penulis menyampaikan pesan secara lebih hidup, emosional, dan bermakna.
Memahami majas tidak hanya membantu dalam menjawab soal, tetapi juga melatih kepekaan berbahasa, meningkatkan kemampuan menulis, sekaligus memperkaya ekspresi diri.
Artikel ini merangkum lebih dari 150 contoh majas dari berbagai jenis, disusun sistematis agar mudah dipelajari dan langsung bisa diterapkan.
Apa Itu Majas?
Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memperkuat pesan atau menghadirkan efek tertentu dalam kalimat. Dalam dunia pendidikan, majas sering diajarkan sebagai bagian dari keterampilan literasi, karena mengasah kemampuan membaca bermakna dan interpretatif.
Banyak pakar linguistik, termasuk Keraf (2010), menjelaskan bahwa majas muncul dari kebutuhan manusia mengekspresikan pikiran secara tidak biasa, lebih estetis, atau lebih emosional.
Di kelas, guru biasanya mendorong siswa mengenali ciri khas tiap majas agar tidak mudah tertukar, misalnya antara metafora dan personifikasi, atau antara hiperbola dan litotes.
150+ Contoh Majas Berbagai Jenis dalam Kalimat
Berikut kumpulan contoh majas paling lengkap, dikelompokkan per jenis agar mudah dipahami. Setiap contoh saya buat original, tidak menyalin dari sumber mana pun.
1. Majas Perbandingan
a. Majas Metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata penghubung.
Perbandingan ini memberi kesan lebih kuat, padat, dan simbolis sehingga makna terasa lebih dalam. Metafora banyak muncul dalam karya sastra, pidato, hingga percakapan sehari-hari ketika penutur ingin menggambarkan sesuatu secara lebih ekspresif.
Contoh kalimat metafora:
1. Dia adalah bintang di kelasnya.
2. Hatinya menjadi gurun setelah ditinggal pergi.
3. Waktu adalah pisau yang terus mengikis kesempatan.
4. Bibirnya pintu bagi kata-kata bijak.
5. Ide-idenya mata air yang tak pernah kering.
6. Harapan itu tinggal abu.
7. Kota itu adalah hutan beton.
8. Laut menjadi cermin langit sore.
9. Senyumnya obat bagi teman-temannya.
10. Ayah adalah nahkoda keluarga.
11. Rumah itu sarang kenangan.
12. Kata-katanya peluru yang melukai hati.
13. Ilmu adalah lentera hidup.
14. Kesabaran ibunya samudra.
15. Dia menjadi tulang punggung keluarga.
16. Hidupnya berubah menjadi labirin masalah.
17. Guru itu pelita bagi muridnya.
18. Malam adalah selimut penat.
19. Sahabatnya jangkar yang membuatnya kuat.
20. Kenangan masa kecil permata berharga.
21. Senyum adiknya cahaya rumah.
22. Hujan adalah musik bagi hatinya.
23. Ambisi itu api yang membakar langkah.
24. Rumah sakit menjadi lorong harap.
25. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan.
26. Pemuda itu mesin ide tanpa henti.
27. Mimpinya kapal yang siap berlayar.
28. Diamnya tembok tak tergoyahkan.
29. Dunia ini panggung besar.
30. Masa lalu bayangan yang mengikutinya.
b. Majas Simile
Majas simile merupakan gaya bahasa yang menghadirkan perbandingan eksplisit dengan menggunakan kata penanda seperti seperti, bagaikan, laksana, ibarat, atau bak.
Simile membantu pembaca membayangkan situasi dengan lebih jelas karena membandingkan dua hal secara langsung dan mudah dipahami.
Contoh kalimat simile:
31. Wajahnya cerah seperti mentari pagi.
32. Hatinya hancur bagaikan kaca jatuh.
33. Mereka bekerja laksana semut.
34. Ia tersenyum bak purnama di langit.
35. Suaranya lembut ibarat angin sore.
36. Mereka bergerak seperti air mengalir.
37. Matanya tajam laksana elang.
38. Pikiran itu datang seperti petir.
39. Tawa mereka meledak bak ledakan kecil.
40. Mimpinya melayang ibarat burung bebas.
c. Majas Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang memberikan sifat, tindakan, atau perilaku manusia kepada benda mati atau konsep abstrak.
Efeknya membuat gambaran dalam kalimat terasa lebih hidup, berjiwa, dan dekat dengan pengalaman emosional pembaca.
Contoh kalimat personifikasi:
41. Angin malam berbisik di jendela.
42. Matahari tersenyum pada petani.
43. Buku itu memanggilnya untuk dibaca.
44. Daun-daun menari diterpa angin.
45. Ombak berteriak membentur karang.
46. Waktu berjalan cepat meninggalkan penyesalan.
47. Hujan menyapa kota yang panas.
48. Telepon itu menjerit minta diangkat.
49. Jalan memeluk langkahnya.
50. Awan menggandeng matahari.
51. Lampu kota mengawasi pejalan malam.
52. Bintang berkelip nakal.
53. Benteng tua berbisik tentang sejarah.
54. Gelas kopi menghangatkan perbincangan.
55. Gedung itu menunduk letih menanggung usia.
d. Majas Alegori
Majas alegori memanfaatkan kisah, gambaran simbolis, atau alur perumpamaan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.
Biasanya, alegori digunakan untuk menggambarkan konsep abstrak seperti hidup, cinta, atau harapan melalui cerita atau objek yang lebih konkret.
Gaya ini membuat pesan terasa lebih reflektif dan mudah dipahami pembaca.
Contoh kalimat alegori:
56. Hidup adalah perjalanan panjang di jalan yang tak selalu mulus.
57. Ilmu bagaikan perahu kecil yang harus dikayuh terus.
58. Cinta adalah taman yang perlu dirawat.
59. Kesuksesan seperti gunung tinggi yang butuh usaha untuk didaki.
60. Harapan seperti pelita kecil di tengah gelap.
61. Masa depan ibarat ladang yang harus ditanam sejak dini.
62. Kehidupan adalah sungai yang terus mengalir.
63. Persahabatan seperti jembatan yang menyambung hati.
e. Majas Metonimia
Majas metonimia muncul ketika sebuah benda disebutkan dengan nama merek, bagian, atau istilah lain yang mewakili keseluruhan objek.
Penggunaan majas ini membuat kalimat terasa lebih ringkas dan langsung, terutama karena pembaca sudah familiar dengan merek atau simbol yang dipakai.
Contoh kalimat metonimia:
64. Dia membuka Google untuk mencari jawaban.
65. Ayah membeli Aqua di warung.
66. Mereka menonton pertandingan melalui YouTube.
67. Kakaknya memperbaiki tugas dengan Microsoft.
68. Ibu menyetrika pakaian dengan Philips.
69. Polisi memeriksa data melalui Samsat.
70. Anak itu mendengar musik lewat Spotify.
f. Majas Sinekdoke
Majas sinekdoke digunakan ketika sebagian mewakili keseluruhan (pars pro toto) atau keseluruhan mewakili sebagian (totum pro parte).
Gaya bahasa ini sering dipakai untuk menyingkat penyebutan, memberi efek dramatik, atau menghadirkan fokus tertentu pada objek yang dibicarakan.
Dalam teks berita, puisi, hingga percakapan sehari-hari, sinekdoke membantu kalimat terasa lebih padat namun tetap kuat maknanya.
Contoh kalimat sinekdoke:
71. Atap itu butuh diperbaiki.
72. Semua mata tertuju padanya.
73. Indonesia menang 3-0 dalam laga tadi.
74. Kampung itu ikut merasakan sedihnya.
75. Tangan-tangan kecil itu membantu bersih-bersih.
76. Para penonton memenuhi stadion.
77. Jakarta menyambut tamu negara.
78. Kepala-kepala itu mengangguk tanda paham.
2. Majas Pertentangan
a. Majas Hiperbola
Majas hiperbola digunakan untuk melebih-lebihkan sesuatu secara ekstrem agar emosi atau penekanannya terasa lebih kuat.
Gaya bahasa ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, cerita, hingga karya sastra karena memberikan efek dramatis yang langsung tertangkap oleh pembaca.
Contoh kalimat hiperbola:
79. Tangisnya mengguncang seluruh rumah.
80. Ia sudah menunggu berabad-abad.
81. Tugas itu menghisap seluruh tenaganya.
82. Suaranya menggelegar seperti petir.
83. Kantongnya kering kerontang.
84. Larinya secepat kilat.
85. Pandangannya menusuk hati.
86. Tumpukan file itu seperti gunung.
87. Ia tidur seribu tahun.
88. Lapar ini membunuhnya pelan-pelan.
89. Hatinya remuk berkeping.
90. Banjir pesan itu membanjiri ponselnya.
91. Langkahnya menggetarkan kelas.
92. Ucapan itu menghujam dadanya.
93. Wanginya menyebar ke seluruh bumi.
b. Majas Litotes
Majas litotes digunakan ketika penutur merendahkan diri atau menyederhanakan sesuatu secara halus. Tujuannya bukan untuk mengecilkan makna, melainkan menunjukkan kerendahan hati dan kesantunan.
Gaya bahasa ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, undangan, pidato, hingga tulisan formal sebagai bentuk etika berbahasa.
Contoh majas litotes:
94. Ini hanya sekadar rumah kecil.
95. Saya hanya murid sederhana.
96. Tolong terima sedikit bingkisan ini.
97. Dia orang biasa, bukan siapa-siapa.
98. Kemampuan saya tidak seberapa.
99. Pertemuan ini hanya obrolan kecil.
100. Kami usaha kecil-kecilan saja.
101. Silakan mampir ke gubuk kami.
102. Makanan ini tidak ada apa-apanya.
103. Saya hanya pemula dalam hal itu.
c. Majas Paradoks
Majas paradoks muncul ketika sebuah pernyataan tampak bertentangan dengan kenyataan, namun sebenarnya mengandung kebenaran maknawi.
Paradoks sering digunakan untuk menonjolkan kontras antara situasi luar dan kondisi batin, atau antara fakta fisik dan realitas emosional.
Gaya bahasa ini banyak dijumpai dalam karya sastra, pidato reflektif, hingga tulisan motivasi, karena memberikan kedalaman makna dan nuansa kontemplatif.
Contoh kalimat paradoks:
104. Ia merasa sepi di tengah keramaian.
105. Rumah besar itu terasa sempit baginya.
106. Di kota panas itu ia merasakan dingin perhatian.
107. Hatinya kosong meski semuanya tersedia.
108. Hidupnya gelap di tengah cahaya popularitas.
109. Ia merasa jauh meski dekat.
110. Ruangan itu dingin walau matahari terik.
111. Hari itu indah meski hatinya galau.
d. Majas Antitesis
Majas antitesis menghadirkan dua kata atau gagasan yang saling berlawanan dalam satu rangkaian kalimat. Kontras ini digunakan untuk menegaskan pesan, menonjolkan perbedaan, sekaligus memberi ritme yang kuat.
Dalam teks pidato, narasi motivasi, atau tulisan reflektif, antitesis sering dipakai untuk menunjukkan keberagaman dan dinamika pengalaman manusia.
Contoh majas antitesis:
112. Tua-muda berkumpul di aula itu.
113. Kaya-miskin saling membantu.
114. Jauh-dekat sama-sama hadir.
115. Suka-duka mereka lewati bersama.
116. Besar-kecil ikut berpartisipasi.
117. Pintar-bodoh mendapat kesempatan sama.
118. Lama-cepat acara itu selesai.
119. Kuat-lemah saling mendukung.
3. Majas Penegasan
a. Majas Repetisi
Majas repetisi muncul ketika sebuah kata atau frasa diulang secara sengaja untuk memperkuat makna, menegaskan pesan, atau menambahkan ritme dalam kalimat.
Pengulangan ini membuat emosi dan fokus pembaca tertuju pada hal yang ingin ditekankan penulis.
Contoh kalimat repetisi:
120. Dia belajar, belajar, dan terus belajar.
121. Kita harus kuat—kuat menghadapi tantangan.
122. Mereka tertawa, tertawa hingga lupa waktu.
123. Hari demi hari, ia mencoba lagi.
124. Sedikit demi sedikit, ia memperbaiki diri.
125. Kenangan itu datang, datang tanpa diundang.
126. Langit cerah, cerah seperti hatinya.
127. Ia berjalan jauh—jauh dari keramaian.
128. Dunia berputar, berputar tanpa henti.
129. Kita maju, maju bersama.
130. Ia menunggu, menunggu keputusan.
131. Bunga itu tumbuh, tumbuh perlahan.
b. Majas Retorik
Majas retorik adalah gaya bahasa berupa pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Tujuannya bukan untuk meminta informasi, tetapi untuk menggugah pembaca, menegaskan pandangan, atau mengajak merenung.
Dalam teks pidato maupun tulisan persuasif, majas ini sering dipakai untuk membangun kedekatan emosional dan menstimulasi pemikiran tanpa harus memaksakan jawaban eksplisit.
Contoh kalimat majas retorik:
132. Siapa yang tak ingin sukses?
133. Bukankah hidup penuh pilihan?
134. Siapa yang mampu menolak kebaikan?
135. Untuk apa kita takut mencoba?
136. Siapa yang bisa memutar waktu?
137. Mengapa kita harus menyerah?
c. Majas Pleonasme
Majas pleonasme muncul ketika sebuah kalimat memakai kata yang sebenarnya tidak diperlukan, tetapi justru digunakan untuk memberikan penegasan makna.
Dalam komunikasi sehari-hari, pleonasme cukup sering muncul dan biasanya tidak dianggap salah selama tujuannya memang untuk memperjelas pesan.
Contoh majas pleonasme:
138. Ia turun ke bawah.
139. Tolong naik ke atas.
140. Dia maju ke depan.
141. Mereka mundur ke belakang.
142. Ia masuk ke dalam ruang.
143. Keluar dari luar gedung.
d. Majas Paralelisme
Majas paralelisme muncul ketika sebuah kalimat disusun dengan bentuk atau struktur yang sejajar. Kesetaraan pola ini membuat pesan terasa lebih ritmis, teratur, dan mudah dicerna.
Dalam penulisan formal maupun kreatif, paralelisme sering dipakai untuk memperkuat penekanan dan menghadirkan alur bahasa yang lebih rapi.
Contoh kalimat paralelisme:
144. Ia belajar dengan tekun, berlatih dengan rajin, dan bekerja dengan sungguh-sungguh.
145. Mereka datang pagi, hadir sore, kembali malam.
146. Siswa membaca, menulis, dan berdiskusi.
147. Dia berlari cepat, melompat tinggi, mendarat mulus.
148. Guru menjelaskan jelas, ringkas, dan padat.
149. Musik itu lembut di awal, kuat di tengah, tenang di akhir.
150. Mereka berbagi cerita, pengalaman, dan harapan.
Mengapa Majas Penting Dipahami Pelajar?
Selain memenuhi tuntutan kurikulum, penguasaan majas memiliki manfaat praktis:
- Memperkaya diksi dan kreativitas siswa dalam menulis teks naratif maupun deskriptif.
- Mengasah kemampuan membaca kritis, karena majas membuat teks lebih interpretatif.
- Meningkatkan empati linguistik, melihat dunia dari sudut pandang baru.
- Mengoptimalkan ekspresi, baik dalam karya sastra maupun komunikasi sehari-hari.
Di banyak sekolah, siswa sering keliru membedakan majas yang mirip. Menghafal contoh saja tidak cukup—diperlukan pemahaman pola, efek, dan konteks penggunaannya. Itulah mengapa daftar contoh terstruktur seperti ini sangat membantu proses belajar.
Kesimpulan
Majas adalah unsur penting dalam bahasa yang membuat kalimat lebih hidup, emosional, dan bernilai estetis. Melalui 150+ contoh majas di artikel ini, Kamu kini memiliki referensi lengkap untuk memahami berbagai jenis majas, mengenali cirinya, dan menerapkannya dalam tulisan.
Jika ingin memperdalam kemampuan, Kamu bisa mencoba menulis ulang contoh-contoh ini dengan situasi yang dialami sendiri. Semakin sering digunakan, semakin tajam kepekaanmu terhadap gaya bahasa.
Pertanyaan Umum (FAQ)
1. Mengapa majas penting dalam bahasa Indonesia?
Majas membantu penyampaian pesan menjadi lebih efektif, estetis, dan menyentuh emosi pembaca. Dalam konteks pendidikan bahasa, majas juga melatih siswa memahami makna tersirat dan meningkatkan kemampuan interpretasi teks, terutama saat membaca karya sastra atau artikel yang kaya figuratif.
2. Berapa jenis majas yang wajib dipahami siswa?
Setidaknya ada 10–12 jenis majas fundamental yang perlu dikuasai, seperti metafora, simile, personifikasi, hiperbola, litotes, metonimia, sinekdoke, paradoks, antitesis, dan repetisi. Jenis-jenis inti ini sering muncul di soal ujian, buku pelajaran, maupun analisis teks di kelas.
3. Apakah majas boleh digunakan dalam teks non-sastra?
Tentu boleh. Gaya bahasa figuratif banyak digunakan dalam pidato, artikel opini, konten edukasi, hingga iklan. Majas membantu penulis menarik perhatian, memperkuat pesan, dan membuat teks lebih menarik tanpa harus bersifat puitis.
4. Cara tercepat menguasai majas?
Baca banyak contoh, kenali pola tiap jenis, lalu biasakan membuat kalimat sendiri. Semakin sering berlatih, semakin mudah membedakan majas yang terlihat mirip seperti metafora vs simile atau hiperbola vs litotes. Kamu juga bisa mencoba menganalisis majas dalam buku atau artikel yang dibaca sehari-hari.
%20(4).webp)
